Postingan

PEMERINTAHAN TRADISIONAL PAKPAK & MASUKNYA BIROKRASI KOLONIAL BELANDA

Gambar
Pemerintahan di  Tanoh Pakpak telah ada jauh sebelum kedatangan penjajahan Belanda. Walaupun saat itu belum dikenal sebutan Wilayah/Daerah Otonomi yang kita kenal dengan nama Dairi, tetapi kehadiran sebuah pemerintahan pada zaman tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya pengakuan terhadap Raja-raja Adat.   Pemerintahan masa itu dikendalikan oleh Raja Ekuten/Takal Aur/Kampung/Suak dan Pertaki sebagai raja-raja adat merangkap sebagai Kepala Pemerintahan.  Adapun struktur Pemerintahan masa itu diuraikan sebagai berikut :  Raja Ekuten, sebagai pemimpin satu wilayah (suak) atau yang terdiri dari beberapa suku/kuta/kampong Raja Ekuten disebut juga Takal Aur, yang merupakan Kepala Negeri.  Pertaki, sebagai pemimpin satu Kampung, setingkat dibawah Raja Ekuten.  Sulang Silima, sebagai pembantu pertaki pada setiap kuta (Kampung), yang terdiri dari : 1) Perisang-isang; 2) Perekur-ekur; 3) Pertulan tengah; 4) Perpunca ndiadep; 5) Perbetekken.  M...

PERTAKI & PEMIMPIN TRADISIONAL PAKPAK

Gambar
Sebelum dibentuknya birokrasi modern oleh pemerintah Kolonial Belanda, masyarakat Pakpak telah memiliki struktur pemerintahan tradisional, yang terdiri atas 3 strata, yakni:  1. Takal Aur, yang merupakan pemimpin satu suak atau beberapa marga  2. Pertaki yakni pemimpin satu kuta atau satu kampung 3. Sulang Silima yang berperan sebagai dewan yang membantu pertaki pada setiap kuta. ​ Badan pengurus desa terdiri dari pejabat tinggi itu adalah sebagai berikut:  ​ 1. Pertaki atau perisang-isang (yang paling tua) 2. Pertoelan tengah; (penengah) 3. Perekure-ekur (yang paling muda)  4. Anak beroe atau perbeteken. (marga lain yang mengambil perempuan dari marga tanoh)  Pertaki mempunyai peranan yang sangat luas seperti pepatah mengatakan “Bana bilalang Bana biruru, Bana ulubang bana guru” mempunyai kelebihan sebagai Panglima Perang, Raja Adat dan sebagai Guru yang menjadi suri teladan serta panutan bagi masyarakatnya. Sayang, struktur pemerintahan tradisio...