PERTAKI & PEMIMPIN TRADISIONAL PAKPAK
Sebelum dibentuknya birokrasi modern oleh pemerintah Kolonial Belanda, masyarakat Pakpak telah memiliki struktur pemerintahan tradisional, yang terdiri atas 3 strata, yakni:
1. Takal Aur, yang merupakan pemimpin satu suak atau beberapa marga
2. Pertaki yakni pemimpin satu kuta atau satu kampung
3. Sulang Silima yang berperan sebagai dewan yang membantu pertaki pada setiap kuta.
Badan pengurus desa terdiri dari pejabat tinggi itu adalah sebagai berikut:
1. Pertaki atau perisang-isang (yang paling tua)
2. Pertoelan tengah; (penengah)
3. Perekure-ekur (yang paling muda)
4. Anak beroe atau perbeteken. (marga lain yang mengambil perempuan dari marga tanoh)
Pertaki mempunyai peranan yang sangat luas seperti pepatah mengatakan “Bana bilalang Bana biruru, Bana ulubang bana guru” mempunyai kelebihan sebagai Panglima Perang, Raja Adat dan sebagai Guru yang menjadi suri teladan serta panutan bagi masyarakatnya.
Sayang, struktur pemerintahan tradisional ini hancur ketika birokrasi kolonial Belanda menggantikan kepemimpinan tradisional dengan mengganti nama-namanya:
1. Takal aur menjadi Raja Ekuten
2. Pertaki menjadi raja pandua
Dan unsur sulang silima tidak diikutkan lagi dalam pemerintahan, sehingga marga-marga pemilik ulayat sipajek rube tidak lagi menjadi dasar pemilihan pemimpin, tetapi adanya persetujuan dari birokrasi kolonial.
Yang juga membuat kepemimpinan tradisional Pakpak hancur adalah ketika candu dan opium menjadi gaya hidup sejak 1907 - 1958 baru kemudian rumah candu dilarang dan opium dinyatakan sebagai benda berbahaya dan terlarang.
Itulah sejarah kelam suku Pakpak yang membuat peradaban hancur, manusianya apatis, harta kekayaan ludes serta awal dari rasa minder dan tidak percaya diri sebagai orang Pakpak.
#NJUAHNJUAH #putrapakpak #pakpak #sidikalang #keppas #simsim #tanohpakpak #pakpaklanden
Oleh: Anna Martyna Sinamo
Source : Facebook Pakpakologi
Komentar
Posting Komentar